Laman

Senin, 21 Januari 2013

Pemimpi dan Pemimpin



Banyak dari kita adalah para pemimpi yang hidup dengan berbagai harapan agar setiap langkah kehidupan kita bisa selalu sempurna bagai permainan yang semuanya harus mampu kita kendalikan. Mimpi bagaikan pulau dalam suatu perlayaran, yang harus kita miliki agar perlayaran punya tujuan.

Lalu apa yang membuat pemimpin harus disandingkan dengan pemimpi? Ini karena setiap pemimpin adalah pemimpi dan tidak semua pemimpi mampu jadi pemimpin.

Pemimpi kebanyakan hanya menjadikan mimpinya bagai perahu tak bersampan yang hanya dibiarkan terdiam dan terombang-ambing ombak lautan tanpa kemauan untuk berlayar untuk mencapai tujuan. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan dan umpatan pada dunia, mencoba untuk menyalahkan setiap yang ada di sekitarnya atas apa yang terjadi. Pemimpi adalah sang komentator ulung yang tidak pernah merasakan sulitnya lapangan pertandingan.

Hidup sang pemimpi dipenuhi dengan kata “seharusnya”. Seharusnya tak ada orang miskin namun ia tidak pernah berbagi, seharusnya sampah tak bertebaran namun ia tak berupaya untuk membersihkan, dan banyak kata seharusnya yang dia gunakan untuk menghakimi keadaan.

Pemimpin adalah mereka yang mampu menggerakan potensi di sekitarnya untuk mewujudkan visinya sebagai seorang pemimpi. Ia tak akan pernah puas jika mimpinya hanya tergeletak dan lambat laun menjadi usang. Sobat, negeri ini telah dipenuhi banyak pemimpi, Diam berhenti hanya pada teori. Konflik menjadi seni dan retorika menjadi budaya. Hasil perjuangan proklamasi seakan tak berguna dan hasil perjuangan reformasi seakan tak bermakna. Negeri ini kini sangat butuh para pemimpin. Bukan hanya satu atau dua, tapi ratusan juta untuk menghasilkan negeri yang sebenarnya.

Pemimin yang adil dalam menempatkan diri seperti halnya sahabat Rasulullah, Khalid bin Walid (sang pedang Allah yang terhunus) yang tak mengeluh atau mengurangi semangatnya walau ia diturunkan dari jabatannya sebagai panglima. Totalitasnya dalam berjuang masih sama dan kepatuhannya pada keputusan tak berbeda. Sobat, pemimpin itu bukan tentang jabatan administratif yang kita genggam melainkan tentang sikap perjuangan yang tertanam.

Setiap kita adalah pemimpin yang punya andil dan hutang dalam peradaban, bahkan ketika kita memilih mengantongi sampah bungkus permen dibandingkan membuangnya sembarangan adalah bagian dari mental kempemimpinan. Sobat, jika kita tak pernah terbangun dari mimpi panjang dan hanya menyerahkan urusan peradaban pada pemimpin lima tahunan maka tak akan kita temui kehidupan yang telah lama kita dambakan.

BEKERJALAH! Sebagai para pemimpin yang adil, bukan kembali membaluti tubuh dengan kain selimut dan menunggu mimpi benar-benar terjadi. Wallahua’lam..


source : http://www.islamedia.web.id

Rabu, 16 Januari 2013

Gema Juang Para Organisator dalam Pembinaan Organisasi SMAIT Nur Hidayah



Butir gerimis yang turun sore ini, Rabu (16/1) tampaknya tak menyurutkan semangat siswa-siswi aktivis organisasi di SMAIT Nur Hidayah untuk hadir dalam forum pembinaan keorganisasian yang bertempat di Masjid Asy-Syaikhoh Ummu Abdullah. Para organisator, baik itu dari pengurus MPS maupun OSIS, terlihat begitu antusias dan semangat mengikuti forum ini, meskipun forum dilaksanakan sore hari selepas KBM berlangsung
.
Dalam taujih yang disampaikan Ustadz Ihsan Fauzi, beliau mengutarakan kebahagiaan sekaligus kebanggaan kepada seluruh aktivis organisasi ini. Bahagia dan bangga karena dapat mengiringi para pemuda islam yang luar biasa dalam balutan semangat perjuangan yang dahsyat. Belajar mengemban amanah dan mengkoordinir umat . Beliau juga menyampaikan bahwa para organisator di SMAIT Nur Hidayah memang istimewa dan berbeda. Benar-benar dipersiapkan untuk umat , agama, bangsa dan dunia. Ditempa , dan terus ditempa . Nah, kiranya seperti ini kutipan taujih beliau …

Kita beda …Karena kita dipersiapkan untuk umat ini..Karena kita dipersiapkan untuk dakwah dijalan juang ini..
Karena kalianlah, anak-anak yang dibesarkan dalam kobaran api dan tak akan pernah takut pada percikan bara..Kalianlah yang dibesarkan dalam gulungan badai dan tak akan pernah takut pada tetes air..
Kalianlah yang dibesarkan dalam terjangan topan, dan tak akan pernah takut pada hembusan angin..
Subhanallah, Inspiring! Sangat menyentuh sekali taujih yang beliau sampaikan. Takbir pun bergemuruh menyambut ruh perjuangan yang rasanya tersulut dan terbakar membara sore ini.

Ustadz Rosnendya Yudha Wiguna selaku pembina MPS & OSIS  yang selanjutnya berkesempatan menyampaikan taujih mengutarakan pula bahwa para organisator ini harus senantiasa tertata serta pandai dalam memanajemen waktu. Agar prestasi dan organisasi dapat berjalan beriringan dan optimal. Kualitas dan kuantitas ibadah juga harus ditingkatkan. Karena sungguh, barisan generasi rabbani yang cerdas spiritual, intelektual dan emosional lah yang akan sangat dibutuhkan umat ini.

Suasana membahana dan penuh semangat terus berlanjut sampai pada sesi presentasi kegiatan Indonesia Student Leadership Camp (ISLC) 2012 yang diikuti oleh Presiden OSIS 1 & 2 SMAIT Nur Hidayah , Muhammad Ilzam Falah dan Mughnifia Putri Sabrina, pada 1-4 Nopember 2012 di Universitas Indonesia. Banyak sekali ilmu yang diperoleh dari camp yang diikuti 96 ketua OSIS terpilih se-Indonesia tersebut. 
Diantaranya bahwa melalui organisasi lah para pemuda dapat mengasah dan menempa dirinya serta ikut andil dalam kemajuan bangsa. Betapa luar biasanya kekuatan dan kemampuan yang ada dalam diri seorang pemuda sehingga dapat menjadi agen perubahan dan pengguncang dunia. Disampaikan pula bahwa kontribusi dan aksi para pemuda Indonesia akan sangat berarti untuk dunia hari ini dan masa datang. 
Organisasi adalah wujud kontribusi, juga prestasi secara intelektual dan spiritual yang berjalan beriringan .

Sungguh luar biasa, jiwa juang para pemuda islam yang gigih dan tangguh. Senyum dan semangat terpancar dari wajah mereka. Meski lelah, tapi tetap tak menyerah. Subhanallah! Inilah sososk – sosok pemimpin yang umat menantinya. Pemimpin yang bukan sekedar cerdas tapi juga bermoral. Dan mereka lahir dari sini, dari SMA IT Nur Hidayah . Allahuakbar ! Allahuakbar! Allahuakar!   
                                   
Ustadz Ihsan Fauzi menyampaikan taujihnya..

Ustadz Rosnendya Yudha Wiguna

Ketua OSIS 1 mempresentasikan laporan perjalanan selama di ISLC 2012
        

Minggu, 06 Januari 2013

Jadi Akhwat Harus Kuat



Akhwat, sebutan ini biasanya diberikan buat wanita sholihah yang identik dengan kerudung raksasa dan jilbab longgarnya. Akhwat juga sangat menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama. Saat ketemu dengan saudari seiman, senyum dan salam selalu menghiasi wajah dan lisannya. Dia pun juga senantiasa menjaga pandangan dari laki- laki bukan mahram. Dan yang paling dikenal dari sosoknya adalah rasa malu, yang membuatnya semakin terlihat cantik.

Seorang akhwat juga seringkali diidentikan dengan kelembutan. Tapi lembut bukan berarti lemah dan cengeng. Tapi... bagaimana dengan fenomena yang ada sekarang ini, dimana beberapa akhwat yang rajin banget update status di dunia maya tentang curahan hati mereka? Bahasa yang mereka pakai juga romantis mendayu-dayu, atau trenyuh sekalian, yang intinya dipasang untuk mewakili hatinya yang lagi galau. Padahal kalau jaman dulu buku diary tuh disimpan dan dijaga banget biar orang nggak tau, tapi sekarang makin banyak diumbar biar semua orang tau. Nggak tahu tujuannya biar membuat orang iba sama dia atau justru menarik simpati (khususnya para ikhwan). wallahua'lam..

Sayang banget ya, padahal kalo situasi hati udah nggak enak, nulis status yang bikin nelangsa malah bakal nambah sedih suasana. Udah gitu belum tentu masalah bakal keluar dan nemuin jalan keluar, ya nggak? Mungkin kalo kita ambil jalan pintas dengan curhat langsung aja sama Allah, pasti akan lebih adem dan damai di hati.. hoho

Selain itu, seorang akhwat juga identik dengan gampang nangis dan merasa iba daripada laki-laki. Menangis sih boleh- boleh aja, manusiawi kok. tapi kalau dijadikan kebiasaan itu menandakan orangnya mudah rapuh alias cengeng. Seorang akhwat harus bisa belajar menyikapi sesuatu secara dewasa. Kenapa? karena merekalah yang dekat dengan dunia dakwah yang tentunya akan berhadapan dengan 1001 karakter manusia, lengkap dengan pernak pernik kesulitan dan keunikannya. Kalau hati nggak luas, dewasa, dan mudah rapuh, wah bisa- bisa dakwah berhenti di tengah jalan.

Jadi akhwat harus kuat
Kita semua adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk mengesakan Nya. Atau dengan kata lain menegakkan kalimat Laailaha iIlallah di dunia ini. Dan ini bukan perkara simpel. Rasulullah dulu berdakwah hingga giginya patah, dilempari batu, dicaci maki, dibilang orang gila, diteror, diancam mau dibunuh, dll. Bener- bener deh, jalan dakwah memang sangat berat dan nggak hanya sebatas teori, atau sekedar kata ‘Jadilah..!’ maka akan terjadi. Yang ada ‘jadilah!’ lalu kita harus bergerak untuk menjadikannya, dan baru hal itu akan jadi kenyataan..

So, buat kamu para akhwat, Selamat datang di dunia dakwah.… dan kamu harus kuat.

Jadilah yang terkuat dalam kesabaran seperti Sumayyah binti Khayyat yang walaupun disiksa dan dibuang ke padang pasir yang sangat panas dan menyengat, serta diletakkan di atas dadanya sebongkah batu yg berat agar dia keluar dari din, tapi dia tidak meratap, dan tetap mengucapkan, Ahad.. Ahad..

Jadilah sekuat Nusaibah binti Ka'ab yang tidak menangis walau tangannya terpotong, demi membela Rasulullah SAW di perang Uhud. Atau setangguh The Black Rider, si penunggang kuda berbaju hitam, Khaulah binti Azur yang membuat Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasannya memacu kuda ke tengah-tengah medan tempur.

Jadilah sekuat Rumaisa binti Marhan atau Ummu sulaim yang tegas menolak lelaki kafir yang ingin menikahinya, walaupun dia sangat kaya.

Jadilah sekuat dan seikhlas Siti Hajar yang rela dan tetap kuat saat ditinggal Nabi Ibrahim 'Alaihissalam di padang pasir yang tandus dan gersang bersama putranya, Ismail.

(voa-islam)

Kebebasan Itu Omong Kosong



"Aku pengen hidup bebas!! aku paling nggak suka diatur- atur disini". Itulah curcol kebanyakan dari kita yang ngerasa hopeless banget, saat merasa jadi boneka karena suka diatur- atur oleh orang-orang di sekitar. Sebagai anak baru gede yang lagi nyari jati diri nih, kadang kita pengen sesuka hati melangkah kemana pun  yang kita suka buat nyari pengalaman. Tapi friend, apa iya kebebasan yang sedang kita cari itu sudah sesuai dengan kita? apa iya kebebasan itu membebaskan kita? dan apa iya dengan kebebasan itu kita bisa hidup enak dan nyaman? yuk bareng-bareng kita diskusiin disini... 


Friend, saat kita merasa pengen bebas, maka saat itulah justru kita bakal ngerasa terkekang banget. Kok bisa? yaiyalaah, dengan hidup bebas ala kita,  masalah bakal makin banyak dan hari- hari rasanya makin runyam aja. Karena hidup tanpa aturan itu sama dengan motor yang gaada remnya. Pertanyaannya, siapa yang bersedia setor nyawa buat naik motor yang jelas-jelas remnya blong? kalo berani, ya coba aja! sehat nggak...almarhum iya! hueee...

Tahukah kamu friend, kebebasan yang sebenarnya adalah justru saat kita mau patuh sama aturan Allah. Hidup akan jadi teratur, hati serasa adem ayem banget, dan nggak ada lagi cerita semrawut. Batin kamu akan terasa MERDEKA. Dan kalau kamu tanya, kenapa harus pakai aturan Allah? karena Allah kan yang menciptakan kita, jadi jelas aja dong kalau Allah-lah yang paling tau yang terbaik buat kita. Nggak percaya? buat aja tandingan kalau situ bisa dan merasa (sok) mampu. -wuiss..

Jadi buat kamu yang merasa hidup kamu lonely atau semarawut, buruan instrospeksi diri deh. Siapa tau kamu udah terlalu jauh melangkah friend. Jangan sampai kamu malah tambah desperate dan makin jauh aja sama Allah. Kebingungan kamu nggak bakal ada ujungnya, sebelum kamu kembali ke jalan Allah. Ini persis banget sama yang difirmankan Allah dalam Alquran : 

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta..."(QS Thaahaa [20]: 124 – 126). 

Juga di ayat yang lain,
“Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar Rad: 28).

Masih nggak percaya? coba aja deh sono. Semakin kamu jauh, pikiran kamu semakin melayang dan hidup kamu akan makin nggak jelas.

Jangan gampang dongkol kalo ortu kita kadang cerewet sama kita. Yah, jangan lihat caranya deh, lihat manfaat nasehatnya aja. Toh, ortu kita adalah orang yang paling tulus sama kita. Mereka marah justru karena mereka sayang sama kita. Mereka nggak pengen kita sampai salah jalan, atau mengalami kesalahan yang mungkin pernah mereka lakukan dulu. Lagi pula, nanti kalo kita udah tua kayak mereka dan lihat anak kita bandel, maybe kita juga bakalan melakukan hal yang sama kok seperti yang mereka lakukan saat ini. 

Juga jangan gampang sebel sama sekolah yang kasih aturan sedemikian rupa, jangan sampe dengan aturan-aturan itu, kita merasa terkekang. Kita lihat positifnya aja. itu tandanya sekolah berusaha ngebantu kita untuk tetap berada pada jalan-Nya. Lagipula aturan-aturan yang diberikan sekolah itu juga untuk kebaikan kita di dunia dan di akherat kan??

Jadi, berhentilah menuntut kebebasan yang tanpa aturan! karena kebebasan yang seperti itu hanyalah omong kosong dan nggak bakal bisa buat hidup kamu bahagia....


source: voa-islam

Masih inginkah kita untuk berbuat dosa?



Sebagian ulama menggambarkan kematian dan saat saat menjelang ajal bahwa rasa sakit yang dialami dalam detik-detik sakaratul maut tidak ada yang mengetahui secara pasti kecuali orang yang pernah mengalaminya. Bagi yang belum pernah mengalaminya hanya mengetahui dengan membandingkan rasa sakit biasa yang ia ketahui.
Kepedihan naza’ (saat nyawa dicabut) menghujam pada nyawa itu sendiri sehingga merasuk ke dalam seluruh bagiannya, keseluruh nadi, saraf, ruas, rambut, kulit , dan dari ujung kepala hingga telapak kaki. Kiranya, rasa sakit yang dia lalui pada saat nyawa dicabut dapat dikatakan lebih dasyat dari syatan pisau, atau gergaji atau cabikan senjata apapun. Sebab rasa sakit yang diakibatkan senjata atau alat tersebut datangnya dari adanya nyawa dalam diri manusia.
Maka dapat dibayangkan bagaimana jika yang dicabut dan diambil itu adalah nyawa itu sendiri?
Orang yang terkena senjata tajam dapat berteriak dan menjerit disebabkan ada kekuatan yang tersisa dalam hatinya dan lidahnya. Akan tetapi orang yang sedang dalam sakaratul maut terputus suaranya dan kekuatannya melemah lalu menghilang, sebab kepedihan yang ada telah mencapai puncaknya dalam hatinya dengan kepedihan yang sangat sehingga mengalahkan kekuatan pada sekijur tubuhnya. Oleh karena itu, dia tidak mampu lagi memberi isyarat dengan anggota badannya itu untuk meminta pertolongan.
Mental pada saat sakaratul maut menjadi hilang oleh karena rasa sakit, lisan menjadi bisu, organ tubuh menjadi lemah, seandainya mampu bereaksi, orang yang sedang dalam keadaan menjelang ajal akan mengeluarkan suara rintihan dan jeritan serta reaksi lainnya, akan tetapi dia tak mampu melakukan.
Kekuatan tersisa pada saat naza’ hanya mampu memberikan isyarat berupa suara yang tersendat dalam tenggorokan dan dadanya, raut mukanya berubah, rasa sakit merata di sekujur tubuh menjalar ke bagian atas keningnya, lidah memendek tertarik kedalam, kuku jari jarinya memucat, lalu seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi lagi secara perlahan. Pertama tama kedua kakinya menjadi dingin kemudian kedua pahanya, Masing masing organ tubuh mengalami sakaratul maut demi sakaratul maut dan derita demi derita hingga mencapai tenggorokan. Pada saat itu pandangannya terputus dari dunia dan keluarganya. Pintu taubat pun tertutup dan sia sia lah penyesalan dan keluhan serta ratapan…
Membaca uraian ini, masihkan diri kita ingin berbuat dosa ? mohon ampunlah sekarang juga kepada Allah sebelum pintu taubat ditutup.. Astaghfirullahalazdiim.. 
Khalid bin Abdurrahman Asy Syayi – Detik Detik Menjelang Ajal
source: eramuslim

Pengunjung ke...